13 Sep 2010

Nasehat Untuk Para Muslimah 2

. 13 Sep 2010

Nasehat Untuk Para Muslimah 2


Oleh: Syaikh Jamal Al Haritsiy hafizhohullaah
Kepada setiap wanita yang sudah bersuami, atau yang sedang akan membina rumah tangga, aku katakan: hendaknya engkau mengetahui hak suamimu dan hak orangtuamu dan janganlah engkau mencampuradukkan dua kewajiban tersebut. Karena terhadap masing-masing dari suami dan orangtua, ada kewajbannya sendiri-sendiri. Dan hak suami itu lebih wajib. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda:
“Kalau saja aku boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan menyuruh para wanita untuk bersujud kepada suami mereka. Seorang wanita itu belumlah memenuhi seluruh hak Allah terhadapnya sampai ia memenuhi seluruh hak suaminya terhadapnya. Yaitu kalau suaminya menginginkan dirinya sedang ia berada di atas pelana, maka ia akan memenuhi keinginan suaminya itu.” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lain dengan lafaz yang mirip. Dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam “Ash Shohiihah” 1203.
Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam juga bersabda:
“Kalau saja kedua lubang hidung suaminya mengeluarkan darah dan nanah, kemudian ia jilati dengan lidahnya, ia belumlah memenuhi hak suaminya itu. Kalau saja seorang manusia pantas bersujud kepada seorang manusia lain, maka aku akan menyuruh para wanita untuk bersujud kepada suami mereka ketika para suami itu masuk mendatangi mereka karena keutamaan yang telah Allah berikan kepada para suami di atas para istri..” Dikeluarkan oleh Al Hakim dan yang lain. Ia berkata: isnadnya shahih namun tidak dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim.
Maka kalau engkau sudah mengetahui dan meyakini kewajiban yang harus engkau jalani terhadap suamimu, wahai muslimah, maka hendaknya engkau berusaha mendapatkan keridhoannya dengan berbagai macam cara. Kalau dari satu cara tidak bisa, maka coba cara kreatif yang lain untuk membuatnya senang dan gembira. Kalau ia merasakan kenyamanan di rumah setelah capai dan lelah di luar rumah, maka itu akan bermanfaat juga untukmu.
Dan jadilah untuknya sebagaimana seorang wanita sholihah yang memanjakan suaminya, yang meringankan bebannya ketika menghadapi kerasnya kehidupan, yang memperhatikan kesukaan-kesukaannya kemudian mewujudkannya, dan memudahkan kesulitan-kesulitannya walaupun dengan mengorbankan dirinya sendiri. Wanita itu tidak lain adalah ummul mukminiin, Khadijah bintu Khuwailid semoga Allah meridhoinya dan meridhokannya. Beliau adalah sebaik-baik istri bagi Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam sebelum bi’tsah, dan seorang penolong pada masa tahannutsnya di gua hira. Kemudian seorang wanita yang menghiburnya dan menenangkan kekhawatirannya pada saat datangnya wahyu. Suatu hari, setelah menerima wahyu “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan..”, Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam kembali ke rumah dalam keadaan bergemetaran tubuhnya. Kemudian ia masuk mendatangi Khadijah sambil berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Maka beliaupun diselimuti hingga ketakutannya menghilang. Beliau berkata kepada Khadijah: “Wahai Khadijah, ada apa denganku? Sungguh aku khawatir dengan diriku sendiri”. Lalu beliau bercerita kepada Khadijah. Khadijah berkata: “Tidak begitu. Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah memperhinakanmu. Demi Allah, engkau adalah orang yang selalu menghubungkan tali silaturrahmi, jujur, selalu membantu meringankan orang lain, selalu berusaha menyediakan kebutuhan sehari-hari, menjamu tamu, dan membantu membela kebenaran.” Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
Perhatikanlah kata-kata indah yang keluar dari lentera kesalehan, kesucian, kebersihan dan ketakwaan ini. Sehingga kata-kata itu memiliki pengaruh yang besar dalam menenangkan rasa takut dalam qalbu seorang baginda para anak cucu Adam shollallahu’alayhiwasallam. Hendaknya, Khadijah dan ummul mukminin yang lain menjadi teladan untuk kalian.
Dan jadilah seperti Zaenab bintu Jarir, salah seorang wanita Bani Hanzholah dari Bani Tamim. Dari al Haitsam bin ‘Adiy ath Thoo`iy, ia berkata: Mujaalid bercerita kepada kami dari asy Sya’biy, ia berkata: Syuroih berkata kepadaku: Wahai Sya’biy! Hendaknya engkau menikahi wanita-wanita Bani Tamim karena aku melihat mereka itu cerdas-cerdas.
Sya’biy berkata: apa kecerdasaan mereka yang kamu lihat?
Ia berkata: “Aku pernah tiba dari mengantar jenazah pada suatu siang. Dan aku melewati pemukiman Bani Tamim. Tiba-tiba aku melihat seorang nenek di pintu rumahnya berdampingan dengan seorang gadis cantik jelita. Maka aku berbelok dan meminta minum, padahal aku sedang tidak haus.
Gadis itu bertanya: “Minuman apa yang kamu suka?”
Aku berkata: “Yang ada saja..”.
Nenek itu berkata: “Berikan dia susu. Kelihatannya dia orang asing”.
Aku bertanya: “Siapa gadis ini?”
Nenek itu bilang: “Dia Zaenab bintu Jarir, salah seorang wanita Bani Hanzholah”.
Aku bertanya: “Masih sendiri atau sudah bersuami?”
Nenek itu menjawab: “Dia masih sendiri”.
Aku berkata: “Nikahkanlah aku dengannya”.
Nenek itu berkata: “Kalau kamu sepadan dengannya”. (sepadan: kufu`an, bukan kufuwan, ini adalah bahasa Bani Tamim).
Lalu aku pulang ke rumah dan bergegas untuk tidur siang. Tapi aku tidak bisa tidur. Setelah sholat zhuhur, aku mengajak saudara-saudaraku para qurroo` (pembaca Al Quran) yang terhormat: ‘Alqomah, al Aswad, al Musayyib dan Musa bin ‘Arfathoh. Kemudian aku pergi menemui paman gadis itu. Dia menyambut dan berkata: “Wahai Abu Umayyah, apa keperluanmu?”
Aku berkata: “Zaenab, keponakanmu”.
Ia berkata: “Zaenab tidak punya rasa tidak suka kepadamu”. Maka ia pun menikahkanku dengan Zaenab. Setelah Zaenab berada dalam ikatanku, aku menyesal. Aku berkata: “Apa yang sudah aku lakukan dengan wanita Bani Tamim?” Dan aku teringat dengan kasarnya hati mereka. Lalu aku bilang: “Aku akan menceraikannya”. Namun kemudian aku berkata: “Tidak, aku akan hidup dengannya. Kalau aku mendapatkan yang aku suka, aku akan terus hidup dengannya. Tapi kalau tidak, aku akan menceraikannya”. Maka kalau saja kamu melihat aku, wahai Sya’biy, ketika para wanita Bani Tamim itu datang mengiringi Zaenab sampai ia diantarkan masuk kepadaku.
Lalu aku berkata: “Termasuk hal yang sunnah, kalau seorang wanita masuk mendatangi suaminya, si suami sholat dua roka’at kemudian berdoa kepada Allah meminta kebaikan istrinya dan berlindung dari keburukan istrinya”. Maka aku sholat dan aku akhiri dengan salam. Ternyata, Zaenab ada di belakangku mengikuti sholatku. Setelah selesai sholat, beberapa perempuan datang mengambil pakaianku dan memberikan sebuah selimut yang sudah dicelup dengan endapan ‘ushfur (sejenis tumbuhan yang wangi). Setelah rumah menjadi kosong, aku mendekatinya. Dan aku julurkan tangan ke arahnya. Namun ia berkata: “Nanti dulu wahai abu umayyah. Diamlah di tempatmu!” Lalu ia berkata: “Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan aku memohon pertolongan kepada-Nya. Kemudian aku bersholawat kepada Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya aku adalah seorang gadis asing yang tidak mengetahui sifat dan perilakumu. Maka terangkanlah kepadaku apa yang kamu suka maka akan aku kerjakan, dan apa yang kamu tidak suka maka akan aku tinggalkan.
Lalu ia berkata: “Sesungguhnya di kaummu sudah diadakan perayaan pernikahan, dan di kaumku juga begitu. Akan tetapi kalau Allah menentukan sesuatu, pasti itu akan terjadi. Dan kini aku sudah menjadi milikmu. Maka perbuatlah apa yang telah Allah perintahkan. Yaitu menahan secara ma’ruf atau menceraikan dengan baik. Aquulu qowlii haadzaa wa astaghfirullaaha lii wa laka (aku katakan perkataanku ini dan aku mohonkan ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu) (ini adalah perkataan yang biasanya menjadi khotimah sebuah khutbah -pent).
Syuroih berkata: “Demi Allah wahai Sya’biy, Zaenab membuatku perlu memberikan khutbah di waktu seperti itu”. Maka aku katakan: “Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan aku memohon pertolongan-Nya. Dan aku bersholawat dan bersalam kepada Rasulullah dan keluarganya. Wa ba’du. Sesungguhnya engkau sudah mengatakan sebuah perkataan yang kalau engkau berkomitmen dengannya, engkau akan mendapatkan balasan yang besar. Tapi kalau engkau hanya sekedar mengada-ada, maka perkataan itu akan menjadi bukti yang memberatkanmu. Aku suka begini dan aku tidak suka begitu ketika kita sedang bersama-sama, maka janganlah engkau pergi begitu saja. Dan apa yang kamu lihat baik, sebarkan. Sedang apa yang kamu lihat buruk, tutupi”.
Lalu Zaenab mengatakan hal yang tidak aku ingat. “Apakah kamu menyukai berkunjung ke keluarga?”
Aku berkata: “Aku tidak suka dijemukan dengan ipar-iparku”.
Ia berkata: “Siapa tetangga yang kamu sukai untuk masuk ke rumahmu, sehingga aku akan mengizinkan mereka masuk dan siapa juga yang tidak kamu sukai sehigga aku juga tidak menyukai mereka?”
Aku berkata: “Bani Fulan itu orang-orang baik. Sedang bani fulan itu orang-orang buruk”.
Syuroih berkata: “Maka waktu itu aku bermalam dengan malam yang paling nikmat, wahai Sya’biy. Dan Zaenab tinggal bersamaku selama satu tahun, tidak pernah aku lihat kecuali yang aku suka. Pada awal tahun berikutnya, aku datang dari sebuah majlis pengadilan. Tiba-tiba ada seorang nenek yang menyuruh begini dan melarang begitu di dalam rumah. Aku bertanya: “Siapa ini?”
Mereka berkata: “Fulanah, mertua kamu”. Maka hilanglah perasaan janggal dalam hatiku. Setelah aku duduk, nenek itu mendatangiku dan berkata: “Assalamu’alaika, wahai abu umayyah!”
Aku berkata: “Wa’alaikissalaam. Siapa engkau?”
Dia berkata: “Aku fulanah, mertuamu”.
Aku berkata: “Semoga Allah mendekatkanmu kepada-Nya”.
Dia berkata: “Bagaimana pandanganmu terhadap istrimu?”.
Aku katakan: “Sebaik-baik istri”.
Ia berkata padaku: “Wahai Abu Umayyah! Sesungguhnya seorang perempuan tidak akan menjadi lebih buruk dari si Zaenab itu dalam dua keadaan: kalau ia melahirkan seorang anak laki-laki atau ia memiliki kedudukan di sisi suaminya. Maka kalau ada sesuatu yang membuatmu ragu, pakai saja cemeti. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang didapatkan oleh seorang pria di rumahnya yang lebih buruk dari seorang istri yang manja”.
Aku berkata: “Demi Allah, engkau benar-benar sudah mendidik dengan pendidikan yang baik. Dan sudah melatih dengan pelatihan yang baik”.
Ia berkata: “Apakah kamu suka kalau para mertuamu datang berkunjung?”.
Aku berkata: “Kapan saja mereka mau”.
Syuroih berkata: maka nenek itu terus mendatangiku setiap awal tahun dengan memberiku wasiat yang sama. Zaenab pun tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, tidak pernah aku menegurnya dalam satu perkarapun kecuali sekali saja dan aku telah berbuat aniaya terhadapnya. (Ketika itu -pent) muadzdzin sudah mengumandangkan iqomah setelah aku sholat dua rakaat fajar. Dan aku adalah imam sholat di kampung tersebut. Tiba-tiba ada seekor kalajengking merayap. Maka aku ambil sebuah wadah dan aku telungkupkan wadah itu di atasnya kemudian aku katakan: “Wahai Zaenab, jangan bergerak sampai aku datang”. Kalau saja engkau melihatku wahai Sya’biy, setelah aku sholat dan pulang, tahu-tahu aku sudah di dekat kalajengking yang sudah menyengat Zaenab. Lalu aku meminta as saktu dan garam kemudian aku rendam jarinya dan aku membacakannya surat al fatihah dan al mu’awwidzatain.
Kisah ini dikeluarkan oleh Ibnu Abdi Robbih al Andalusiy dalam kitabnya “thobaa`i’un nisaa`”, dan disebutkan pula oleh Abul Fath al Ibsyiihiy dalam kitabnya “al Mustathrof”.
(Bersambung insya Allah)
(Diterjemahkan oleh redaksi akhwat.web.id dari tautan: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=335750)

akhwat.web.id 

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | The Blog Full of Games