Tampilkan postingan dengan label Harakah dan Hizbiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harakah dan Hizbiyyah. Tampilkan semua postingan

3 Agu 2011

AWAS… YAYASAN AGAMA SYI’AH DI SEKITAR ANDA!!!

. 3 Agu 2011
0 komentar

AWAS… YAYASAN AGAMA SYI’AH DI SEKITAR ANDA!!!

Bagi Anda yang ingin mengetahui tentang kesesatan agama Syi’ah, silakan kunjungi website berikut: HAKEKAT.COM dan GENSYIAH.COM


=====
DAFTAR YAYASAN AGAMA SYI’AH DI NUSANTARA
Yayasan Fatimah
JL. Batu Ampar III No.14 Condet Jakarta Timur, 13520
Tazkia Sejati Patra Kuningan IX No.6 Kuningan Jakarta Selatan
Yayasan Al Mahdi Jakarta Utara
Yayasan Al Muntazar Komp Taman Kota Blok E7/43 Kembangan Utara, Jakarta Barat
Yayasan Madina Ilmu Sawangan, Parung, Depok
Shaf Muslimin Indonesia Cawang
IPABI Bogor
Yayasan Insan Cita Prakarsa Jl Lontar 4 No.9 Menteng Atas Jaksel
Islamic Center Jakarta Al Huda Jl Tebet Barat II No 8, Tebet,Jaksel, Indonesia 12810
Yayasan Asshodiq Jl Penggilingan No 16 A, RT01/07 Jakarta Timur
Pengajian Ummu Abiha (HJ Andriyanti) Jl Pondok Hijau VI No.26 Pondok Indah Jakarta Selatan 12310
Pengajian Al Bathul (Farida Assegaf) Jl Clilitan Kecil, Jaksel
Yayasan Babul Ilmi Jl Taman Karmila, Blok F3/15 Jatiwaringin Asri, Pondok Gede
Pengajian Haurah Jl Kampus I Sawangan Depok
MPII Jl Condet Raya 14 condet Jaktim 13520
FAHMI (Forum Alumni HMI) Depok Jl. Fatimah 323 Depok
Yayasan Azzahra Jl. Dewi Sartika Gg.Hj.M.Zen No 17, RT.007/05,Cawang 3, Jakarta Timur
Yaysan Al Jawad Gegerkalong Girang, No 92 Bandung 40015
Yayasan Muttahhari Jl Kampus II No 32 Kebaktian Kiaracondong 40282
Majlis Taklim Al Idrus Rt 04/01 Cipaisan, Purwakarta
Yayasan Fatimah Jl Kartini Raya No 11/13, Cirebon 45123
Yayasan Al Kadzim
Yayasan Al Baro’ah Gg Lenggang IV-66 Blok H, Bumi Resik Panglayungan, Tasikmalaya 46134 Jabar
Yayasan 10 Muharrom JL Chincona 7 Pangalengan Bandung
Majlis Ta’lim Annur Jl Otista No 21 Tangerang Jabar
Yayasan As Shodiq Jl Plesiran 44 Bandung 40132
IPABI PO BOX 509 Bogor Jabar
Yayasan As Salam Jl Raya Maja Utama 25 Majalengka Jabar
YAYASAN Al Mukarromah Jl Cimuncang No 79 Bandung JabarJl Kebun Gedang 80 Bandung 40274 Jabar
MT Al Jawad Jl Raya Timur No 321 Singaparna Tasikmalaya Jabar
Yayasan al Mujtaba Jl Walangi No 82 Kaum Purwakarta Jabar
Yayasan Saifik Jl Setiabudi Blok 110 No 11A/166 D Bandung, Jawa Barat
Yayasan Al Ishlah DRS Ahmad M.Ag
Jl Pasar Kramat No 242 Ps Minggu Cirebon, Jabar
Yayasan Al-Aqilah Jl. Eksekusi EV No. 8 Komp. Pengayoman, Tangerang 15118
Banten – Indonesia
Yayasan Dar Taqrib Jl KH Yasin 31A PO BOX 218 Jepara Jawa Tengah
Al Hadi Pekalongan 51123 , PO BOX 88,
Yayasan Al Amin Giri Mukti Timur II/1003/20, Semarang Jawa Tengah
Yayasan Al Khoirat Jl Pramuka 45, RT 05/06 Bangsri Jepara Demak Jateng Desa Prampelan, Rt 02/04 No 50 Kec Sayung, Jateng
Yayasan Al Wahdah Metrodanan, 1/1 no 81 Ps Kliwon, Solo Jateng
Yayasan Rausan Fikr (Safwan) Jl Kaliurang Km 6, Gg Pandega Reksa No 1B Yogyakarta
Yayasan Al Mawaddah Jl Baru I Panaruban, Rt 02/03 Weleri, Kendal Jateng
Yayasan Al Mujtaba (BP Arman) Jl Pasar I/59, Wonosobo Jateng
Yayasan Safinatunnajah Jl Pahlawan, Wiropati 261, Desa Pancur wening Wonosobo Jateng
Yayasan Al Mahdi Jl. Jambu No.10, Balung, Jember Jawa Timur 68161
Majlis T’lim Al Alawi Jl Cokroaminoto III/254, Probolinggo Jawa Timur
Yayasan Al Muhibbiin Jl. Kh Hasan No.8, Probolinggo, Jawa Timur
Yayasan Attaqi Kedai Hijau, Jl. RA Kartini No.7 Pandaan Pasuruan Jatim
Yayasan Azzhra Sidomulyo II No 38, Bululawang Malang Jawa Timur
Yayasan Ja’far Asshodiq Jl KH Asy’ari II/1003/20 Bondowoso Jawa Timur 68217
Yayasan Al Yasin Jl. Wonokusumo Kulon GG 1/No.2 Surabaya
Yayasan Itrah PO BOX 2112, Jember Jawa Timur
Yapisma Jl. Pulusari I/30, Blimbing, Malang Jawa Timur
Yayasan Al Hujjah Jalan Sriwijaya XXX/5 JemberJawa Timur
Yayasan Al Kautsar Jl.Arif Margono 23 A, Malang Jawa Timur
YAPI Jl Pandaan Bangil, Kenep Beji, Pasuruan Jatim
Yayasan AL Hasyim Jl Menur III/25A Surabaya
Yayasan Al Qoim Jl Sermah Abdurrahman No 43, Probolinggo Jawa Timur
FAJAR
Al-Iffah Jl. Trunojoyo IX / 17 Jember
Yayasan BabIlm Jl. KH. Wahid Hasyim 55 Jember 68137. Jawa – Timur Telpon : 0331-483147 PO. BOX : 232
Yayasan al-Kisa’ Jl. Taeuku Umar Gg. Sesapi No. 1 Denpasar Bali
Al-Hasyimi Toko al-Kaf Nawir Jl. Selaparang 86 Cakranegara Lombok
Yayasan Al Islah Kopm Panakkukang Mas II Bloc C1/1 Makasar 90324
Yayasan Paradigma Jl Sultan Alaudin no 4/lr 6
Yayasan Fikratul Hikmah Jl Sukaria I No 4 Makasar 90222
Yayasan Sadra Makasar
Yayasan Pinisi JL Pontiku, Makassar, Sulsel
Yayasan LSII JL Veteran Selatan, Lorong 40 No 60 Makasar
Yayasan Lentera Jl. InspeksiPam No. 15 Makassar
Yayasan Nurtsaqolain Jl Jendral Sudirman No 36APalopo Sulsel Belakang Hotel Buana
Yas Shibtain Jl Rumah Sakit no 7 Tanjung Pinang Kep Riau
Yayasan Al Hakim Pusat Perbelanjaan Prinsewu, Bolk B Lt2, Lampung Selatan 35373
Yayasan Pintu Ilmu Jl Kenten Permai, Ruko Kentan Permai No.7 Palembang 30114
Yayasan Al Bayan Jl Dr. M. Isa 132/795 Rt 22/8 Ilir Palembang
Yayasan Ulul Albab Jl Air Bersih 24 D Kutabelang Loksumawe Aceh
Yayasan Amali Jl. Rajawali. Komp. Rajawali I No. 7 Medan 20122
Kumail Jl. Punai 2 No. 26 Kuto Batu Palembang
Yayasan Al Muntadzar Jl Al Kahoi II no 80, Samarinda Kalimantan Selatan
Yayasan Arridho Jl A Yani KM 6-7 No 59 Banjarmasin Kalimantan Selatan
Us Ali Ridho Alatas Jl. Sungai Ampal No.10 Rt43/15 Sumberjo, Balikpapan, Kalimantan Timur
Madrasah Nurul Iman Selat Segawin, remu Selatan No 2 Sorong Irian Jaya
Sumber: Yayasan Fatimah

Klik disini untuk melanjutkan »»

20 Jun 2011

MASUK SURGA TANPA HISAB

. 20 Jun 2011
0 komentar

MASUK SURGA TANPA HISAB



Bismillah,
Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat.

Allah berfirman,
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (QS. An Nahl: 120).

Dalam ayat ini, Allah memuji nabi Ibrahim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an Allah memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam.

Allah berfirman,
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Perhatikanlah, Ibrahim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya,
Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6).

Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.

Allah juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21).

Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Allah, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.

Patuh Terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrahim adalah seorang yang sangat patuh kepada Allah, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hamba Allah yang paling taat.

Allah berfirman,
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?”
(QS. Az Zumar: 9)

Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan,
“Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Allah (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid).
Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya.

Mujahid berkata,
“Nabi Ibrahim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120).
Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi).
Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.

Tawakkal Kepada Allah, Itu Kuncinya
Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab :

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Allah.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Allah.
Karena itulah Rasulullah menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Allah. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allahlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan.
Wallahu a’lam.

[Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah-]


Sumber : http://manhaj-salafusshalih.blogspot.com/2010/11/masuk-surga-tanpa-hisab.html
http://www.abuayaz.co.cc/2011/05/masuk-surga-tanpa-hisab.html

Klik disini untuk melanjutkan »»

17 Jun 2011

Amalan dan Pemahaman Sufi yang Menyelisihi Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu

. 17 Jun 2011
0 komentar

Amalan dan Pemahaman Sufi yang Menyelisihi Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu

 
Oleh : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

Bismillah,
Selain dalam masalah akidah, shufiyah juga menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dan para ulama madzhab Syafi’i dalam perkara-perkara lainnya.

Masalah tidak sampainya kiriman bacaan Al-Qur’an
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berpendapat tidak sampainya kiriman pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang telah mati. Sedangkan shufiyah justru paling getol melakukannya.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata dalam kitabnya Al-Umm: “Akan sampai kepada mayit amalan orang lain dari amalan tiga perkara, yakni : haji yang dilakukan orang lain mewakili dirinya, shadaqah atas namanya atau yang mengqadha amalannya, dan doa. Adapun yang selain itu berupa shalat dan puasa adalah bagi pelakunya, tidak untuk si mayit.”

Demikian juga Ibnu Katsir rahimahullahu –beliau termasuk ulama bermadzhab Syafi’i– ketika menafsirkan ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 ‎وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى‎
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Beliau berkata: “Dari ayat ini, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dan orang yang mengikutinya mengambil istinbath (kesimpulan hukum dari suatu dalil) bahwa hadiah pahala bacaan Al-Qur’an tidaklah sampai kepada orang mati, karena hal itu bukan amal perbuatan mereka. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak pernah menganjurkannya….” (Tafsir Ibnu Katsir) [Lihat Mukhalafah hal. 169]

Masalah taklid
Taklid adalah perbuatan tercela, perbuatan kaum musyrikin. Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ menunjukkan rusaknya taklid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)

Ibnu Abdil Bar rahimahullahu berkata: “Tidak ada perselisihan di antara para imam di seluruh negeri tentang rusaknya taklid.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu sangat mencerca taklid, sedangkan shufiyah mendidik murid-murid mereka untuk taklid. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Kaum muslimin ijma’, barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya meninggalkannya karena ucapan seseorang.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata juga: “Semua yang aku ucapkan namun menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama. Janganlah kalian taklid kepadaku.”

Adapun shufiyah, mengajari umat untuk taklid kepada guru mereka. Alangkah jauhnya dari ajaran beliau. Kenyataan menunjukkan mereka terjatuh dalam bid’ah ini.

Al-Ghazali memisalkan seorang murid dengan gurunya seperti seorang buta yang dituntun di pinggir sungai. Sang murid harus menyerahkan segala urusannya kepada sang guru.

Al-Ghazali juga berkata: “Manfaat dari kesalahan guru lebih banyak daripada kebenaran seorang murid.”

Al-Kurdi Ash-Shufi berkata: “Di antara adab, yakni adab bersama guru, adalah tidak menyanggah apa yang dilakukan gurunya walau zhahirnya adalah haram. Tidak boleh murid berkata: ‘Mengapa sang guru melakukan itu?’ Karena barangsiapa yang berkata kepada gurunya: ‘Mengapa?’, dia tidak akan sukses (bahagia).” Demikianlah pendidikan dan tarbiyah shufiyah, tidak saling mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan. (Mukhalafah hal. 129-135)

Pengagungan As-Sunnah
Mengagungkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban setiap mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah seseorang yang berpegang teguh dengan As-Sunnah. Beliau rahimahullahu pernah berkata: “Semua hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, maka aku berpendapat dengannya walaupun hadits tersebut belum sampai kepadaku.”

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah ditanya tentang satu masalah. Kemudian beliau berkata: “Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata begini dan begini.” Si penanya berkata: “Apakah engkau berpendapat dengannya?” Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu gemetar dan memerah wajahnya lalu berkata: “Wahai, bumi mana yang akan menyanggaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku malah tidak berpendapat dengannya??!”

Adapun shufiyah, betapa banyak mereka menolak hadits karena perasaan dan hawa nafsu belaka. Di antara hadits yang ditolak shufiyah adalah:

1. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ada seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, di mana ayahku?” Beliau menjawab: “Di neraka.” Ketika orang tadi berpaling, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim no. 203)

2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis hingga membuat menangis (orang-orang) yang di sekitarnya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku minta izin kepada Rabbku untuk berziarah ke kuburan ibuku. Dia mengizinkanku. Dan aku memintakan ampun baginya, tapi aku tidak diberi-Nya izin.” (HR. Muslim)

3. Hadits tentang kisah meninggalnya Abu Thalib. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mereka menolak hadits-hadits ini tanpa hujjah. Padahal para imam madzhab Syafi’i seperti Al-Imam An-Nawawi, Al-Imam Al-Baihaqi, dan Ibnu Katsir rahimahumullah telah menjelaskan dengan gamblang dari hadits ini bahwa dua orangtua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal tidak di atas Islam. (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 104-116)

Masalah ilmu kalam (filsafat)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu memiliki sikap yang keras terhadap ahlul kalam. Beliau pernah berkata: “Hukumku atas ahlul kalam adalah dia dipukul dengan pelepah kurma dan sandal, kemudian diletakkan di atas unta, lalu diarak keliling kabilah. Diserukan kepada mereka: ‘Ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah lalu mempelajari ilmu kalam’.”

Kita telah mengetahui bahwa shufiyah sangat erat dan terpengaruh oleh firqah Asy’ariyah, padahal mereka termasuk kelompok ahlul kalam.

Demikianlah beberapa masalah yang bisa kami paparkan dalam kesempatan ini. Mudah-mudahan dengan tulisan ini bisa memberikan sedikit wawasan ilmu bagi yang membacanya, sehingga bisa meyakini bahwa paham Shufiyah banyak sekali penyimpangannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan bahwasanya kaum shufiyah sejatinya bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu.



Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=902
http://www.abuayaz.co.cc/2011/01/amalan-dan-pemahaman-sufi-yang.html

Klik disini untuk melanjutkan »»

4 Mei 2011

Download Bedah Buku: N.I.I Dalam Timbangan ‘Aqidah (Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam) (Penting!!!)

. 4 Mei 2011
0 komentar

Download Bedah Buku: N.I.I Dalam Timbangan ‘Aqidah (Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam) (Penting!!!)

Salah satu yang menarik apabila memperhatikan sejarah Indonesia adalah begitu seringnya terjadi pemberontakan-pemberontakan, baik pada awal kemerdekaan sampai saat ini. Salah satu pemberontakan terlama yang ditumpas yaitu DI/TII yang bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia (N.I.I) yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo.
Dan sampai saat ini N.I.I pun tetap ada walaupun pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan telah lama ditumpas dan pimpinannya pun, yaitu SM Kartosuwiryo telah tewas bersama pasukannya, ketika ditumpas oleh TNI. Berbagai cara secara gerakan bawah tanah dilakukan dalam upaya membangun kembali cita-cita tersebut.
Untuk itulah, Divisi Perpustakaan Lembaga Dakwah dan Taklim (L-DATA) Jakarta bersama Remaja Mutiara Hadits menyelenggarakan bedah buku berjudul “N.I.I Dalam Timbangan Aqidah” karya Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam. Yang diselenggarakan pada hari Ahad, tanggal 25 Agustus 2002 mulai pukul 08.30 s.d. 12.00 WIB bertempat di Musholla Al Anwar di Jl. Jatinegara Barat, GG. Anwar I RT 012/01
Buku ini sendiri lebih membahas N.I.I dalam perspektif aqidah. Khususnya dalam mengungkap bagaimana sebenarnya seluk beluk akidah N.I.I, khususnya pemahaman tentang iman, hijrah, dan jihad, lalu menimbangnya dengan timbangan manhaj salaf.
Yang menarik dari bedah buku ini adalah karena Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam sendiri adalah mantan aktivis/pejabat NII yang sekarang bermanhaj salaf.
Silahkan download kajiannya pada link di bawah, selamat menyimak!
Atau download dalam format mp3.zip Disini
Sumber : Dipublikasi ulang dari http://moslemsunnah.wordpress.com
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2011/05/02/download-bedah-buku-n-i-i-dalam-timbangan-%E2%80%98aqidah-ustadz-abu-hudzaifah-suroso-abdussalam-penting/

Klik disini untuk melanjutkan »»

Bukti Kesesatan NII (Negara Islam Indonesia)

.
0 komentar

Bukti Kesesatan NII (Negara Islam Indonesia)

Oleh: Al-Ustadz Hartono Ahmad Jaiz
Bangunan Megah di Pesantren Al-Zaytun, Indramayu
NII – Pesantren Al-Zaytun (1)
Bukti-bukti Kesesatan NII KW IX Abu Toto
Sepak terjang NII KW IX (Negara Islam Indonesia Komandan Wilayah IX), dalam kurun waktu di bawah kepemimpinan Haji Abdul Karim dan kemudian Haji Muhammad Ra’is dari tahun 1984 s/d 1992 maupun di bawah kepemimpinan Abu Toto Asy-Syaikh AS Panji Gumilang (gelar kebesarannya saat ini) sejak dari tahun 1992 hingga tahun 2001 telah menimbulkan banyak korban. Secara nyata yang lebih banyak dirugikan baik moril maupun material oleh KW IX sejak masa Haji Karim sampai Abu Toto adalah umat islam pada umumnya, dan secara khusus kalangan NII atau DI (Darul Islam).
Kerugian yang diderita ummat Islam secara moril adalah telah tercemarinya pemikiran dan pemahaman mereka tentang Islam, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari dan tanpa terasa telah terjerumus pada suatu keyakinan yang menjungkir-balikkan prinsip-prinsip keimanan (aqidah) yang untuk selanjutnya berdampak pada pelecehan terhadap syari’at serta bermuara pada kemerosotan akhlak.
Suatu tindakan pemurtadan sekaligus penindasan dan pemiskinan telah berlangsung terhadap umat Islam Indonesia yang dilakukan oleh KW IX di Indramayu Jawa Barat, Gerakan sesat yang mengatasnamakan NII di balik pesantren mewah Al-Zaytun. Suatu tindak kejahatan politik, sosial dan pelanggaran HAM yang sangat serius yang mungkin belum pernah dilakukan oleh kelompok sempalan maupun yang ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia.
Penyimpangan ‘Aqidah
Kezhaliman yang paling dahsyat yang dilancarkan oleh KW IX baik pada masa kepemimpinan Haji Abdul Karim, Haji Ra’is maupun kepemimpinan Abu Toto adalah menciptakan syirik. Berdasarkan data-data yang telah tertuang di atas dan beberapa kesaksian dan laporan para mantan peagikut Abu Toto, maka syirik yang diciptakan NII KW IX dalam kurun 1984-5 s/d 2001 sekarang adalah menyusun sistematika tauhid secara serampangan, dengan membaginya ke dalam 3 substansi tauhid, yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyyah dan Tauhid Uluhiyyah tanpa dasar disiplin ilmu sedikit pun.
Pertama, mereka mengumpamakan Tauhid Rububiyah dengan akar kayu, Mulkiyyah adalah batang kayu, Uluhiyyah adalah buahnya. Selain itu mereka juga menafsirkan Rububiyah dengan undang-undang, Mulkiyyah adalah negara, dan Uluhiyah adalah ummatnya. (2)
Tafsiran semacam itu sungguh sangat menyesatkan, karena telah merendahkan, menghina Allah, dan telah menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Kedua, mereka juga meyakini kerasulan dan kenabian itu tidak akan berakhir selama masih ada orang yang menyampaikan da’wah Islam kepada manusia. Kesimpulan mereka, bahwa setiap orang yang menyampaikan da’wah Islam pada hakikatnya adalah Rasul Allah.
Ketiga, menciptakan ajaran dan keyakinan tentang adanya otoritas nubuwwah pada diri dan kelompok mereka dalam menerima, memahami dan menjelaskan serta melaksanakan maupun dalam memperjuangkan AI-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  hingga tegaknya syari’ah dan kekhalifahan di muka bumi. Dengan menetapkan doktrin tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah secara serampangan serta sangat menyesatkan antara lain:
  • Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu’alaihi wa  Sallam untuk menata dunia secara baik dan benar menurut yang dikehendaki dan ditetapkan Allah. Dengan demikian Al-Qur’an juga sebagai Undang-undang, Hukum dan Tuntunan yang harus diterima dan dilaksanakan manusia. Namun dalam prakteknya bagaimana mereka mensikapi, memperlakukan ataupun dalam memahami AI-Qur’an maka itu terserah manusia, yakni bebas melakukan ta’wil maupun tafsir baik terhadap ayat yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. (3)
  • As-Sunnah adalah perilaku Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa  Sallam dalam melaksanakan Al-Qur’an yang ternyata mengikuti milah (ajaran) dan tata cara pengabdian Nabi lbrahim Alaihissalam. Selain itu Nabi Muhammad juga diyakini sebagai kader Nabi Isa bin Maryam yang dididik dan dibina oleh kaum Hawariy yang nota bene pengikut setia Nabi Isa Alaihissalam atau hasil transformasi ajaran Nabi Isa Alaihissalam. (4)
Keempat, Menggunakan nama-nama Nabi untuk hirarki kepangkatan (jabatan struktural dan fungsional), sehingga menimbulkan kesan bahwa Nabi yang satu bisa diperintah oleh Nabi lainnya yang berada pada struktur lebih tinggi.
Kelima, Melakukan tipu daya kepada pengikutnya dengan memberikan iming-iming pangkat maupun jabatan serta futuh (kemenangan) terhadap penguasa Rl, dan meyakinkan melalui doktrin bahwa secara diam-diam sekitar 50% dan kekuatan TNI-PoIri (ABRI) telah berpihak kepada NII sehingga pasti menang, yang dalam istilah mereka menunjuk kepada sebuah ayat yang berbunyi: Nashrun minallahi wa fathum qariib.
Penyimpangan Syari’ah
Merubah Syari’at Zakat Fithri dan Syari’at Qurban
Dalam majalah bulanan Al-Zaytun terbitan Ma’had Al-Zaytun dinyatakan,
” Pada kesempatan ‘led Al Fithri kali yang pertama di awal Januari tahun 2000, Ma’had AI Zaytun, telah mengawali langkah yang tepat sekaligus berani, untuk mengelola sumber dana dalam Islam, yakni dengan mengaktualkan nilai zakat fithrah, ini dilakukan bukan untuk mencari sensasi, tapi semata-mata untuk meningkatkan kualitas ummat. Zakat fithrah tidak lagi dihargai dengan 3,5 liter beras. Karena dosa setahun sudah tidak wajar lagi dibersihkan dengan 3,5 liter beras, dan sangat ironis jika hanya dengan 3,5 liter beras kita bercita-cita untuk mensejahterakan ummat. (5)
“Alhamdulillah, seluruh civitas Ma’had Al Zaytun menyambut langkah ini dengan antusias, termasuk para santri, dan wali santri pun menyambut dengan baik dan penuh kefahaman. Sehingga pada kesempatan ‘led itu, dari santri saja terkumpul dana zakat fithrah hampir mencapai 100 juta rupiah (hanya dari 1235 muzakki, kalau dibuat rata-rata masing-masing santri membayar zakat fithrah, kurang lebih sebesar 75 ribu rupiah) untuk itu kita layak berdo’a: “Taqabbalallahu minna waminkum”
“Pada pertengahan Maret tahun 2000 ini kita bertemu dengan ‘led al Adha, dimana ummat Islam diperintahkan untuk berqurban. Kalau pada ‘led Al Fithri kita bisa melakukan suatu harakah yang bermutu, maka pada ‘led Al adlha inipun kita harus melakukan hal yang sama, bahkan harus lebih hebat lagi.
“Pada ‘led Al Fithri (hari kembali fithrahnya manusia) itu telah mengajak Ummat untuk berzakat fithrah dengan harakat ramadhan-nya. Maka pada ‘led Al Adha (hari berqurbannya manusia) tata mengajak ummat untuk berqurban, mengurbankan sesuatu yang dicintainya dan mendekatkan diri kepada Allah. “
Pengertian Berqurban (menurut Al-Zaytun)
“Menurut bahasa (lughawi) kata qurban berasal dari kata qarraba yang berarti “dekat”, sedangkan dalam kamus AI-Munjid hal 617 kata qurban diartikan sebagai berikut : “apa-apa yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyembelih atau dengan yang lainnya.”
Jadi, namanya berqurban itu tidak selamanya dengan menyembelih hewan, menyembelih hewan hanyalah sekedar lambang dari pengorbanan.
Manfaat zakat dan qurban ditinjau dari aspek sosial adalah untuk memberi makan fakir dan miskin. Memberi makan dalam arti luas adalah bukan hanya memberi makan pada jasmani (perut) tetapi termasuk juga di dalamnya memberi makan kepada rohani (akal dan bashirah). Makaman otak manusia, bukanlah daging kambing, tapi makanan otak manusia adalah ilmu.
Ilmu secara formal bisa didapat lewat pendidikan, maka jika qurban dikeluarkan dalam bentuk uang (misalnya) dan uang yang terkumpul digunakan untuk membangun sarana pendidikan, gedung pembelajaran, asrama, masjid perpustakaan, laboratorium dan kelengkapan lain yang menunjang pendidikan, itu berarti qurban yang kita keluarkan akan lebih abadi (pahala/manfaatnya) bagi Islam dan ummatnya.
Dengan pendidikan kita bisa mendapatkan generasi Islam yang berotak jernih (brilian) dan sekaligus memiliki bashiroh yang tajam. Dengan cara ini qurban jadi lebih, aktual, efektif dan efisien…dst
Yang kemudian pada akhir tulisan tersebut antara lain:
“…Inilah arti berqurban secara luas (arti yang sebenarnya) bukan arti secara sempit, yang hanya mengandalakan berkorban dengan menyembelih hewan saja, hanya berorientasi kepada kebutuhan jasmani (perut) saja. Inilah paradigma berqurban yang optimis dan berwawasan masa depan, bukan pandangan berkorban secara sempit yang hanya memikirkan gegembiraan fakir miskin di hari raya saja, tetapi pandangan jauh ke depan memikirkan nasib ummat seratus bahkan seribu tahun yang akan datang.“ (6)
Sikap dan pandangan serta praktek zakat fithrah yang menyimpang sebagaimana diatas yang diterapkan pada para santri Al-Zaytun, toh tetap berjalan dan bahkan malah semakin parah pada Ramadhan tahun 2000 ini. Sebagaimana yang dilansir media antara lain,
“Sumber dana lain yang bakal dipergunakan untuk pengembangan pesantren antara lain zakat fithrah. Zakat yang lazim ditunaikan ummat Islam menjelang ‘ledul Fithri. Selain itu, pimpinan Ma’had Al-Zaytun sempat mengumumkan kepada 3200 santri tentang jumlah pembayar zakat fithrah terbesar yang dilakukan seorang santri dari Nusa Tenggara Timur sebesar Rp. 1 juta, pembayar zakat fithrah terbesar kedua diraih oleh santri asal Gorontalo senilai Rp 500 ribu, demikianj juga diumumkan pembayar zakat fithrah terkecill sebesar Rp 10 ribu “. (7)
Sedangkan menurut pemberitaan majalah Al Zaytun sendiri malah menggambarkan keberhasilan yang fantastis dari gerakan Ramadhan yang mampu menghasilkan pemasukan uang sebanyak 5 miliar rupiah lebih. (8)
Eksploitasi (pemerasan) maupun eksplorasi (penggalian dana) dan program pemiskiinan ummat Islam (korban jeratan rekruitmen) dengan mengatas-namakan Zakat Tazkiyah Baitiyah, Shadaqah Tathawwu’, Infaq Sabilillah, Khijanah tajwidiyah, Qiradl, Shadaqah (Ja-uka dan isti’dzan, Nikah, tahkim, Musyahadah dan Tartib) maupun Kaffarat dan lain sebagainya telah mencerminkan adanya motif manipulasi/penipuan yang sangat merugikan dan meresahkan umat serta merusak ajaran Islam.
Diantara para korban, ada yang terkena jerat program Qiradh dan lddikhar (tabungan), sampai sebanyak 250 gram emas, bahkan salah seorang pejabat Bank Indonesia (sekarang mantan) sampai rela menyerahkan 2,5 kg emas. Dan dua orang putranya pun, sempat pula menjadi perampok, yang untuk itu mereka harus merelakan tulang iganya putus lantaran demi untuk menyelamatkan diri dari kejaran masa, hanya kareana mengejar target setoran yang harus di bayarkan kepada jama’ah – Negara!
Pemerasan
Kalkulasi di bawah berdasarkan perkiraan jumlah minimal yang konstan dan aktif sebagai anggota NII KW IX dari tahun 1993 s/d tahun 2000 sebanyak 60.000 orang, sekalipun banyak keterangan dari mantan NII KW IX yang menyatakan bahwa jumlah anggotanya sekarang lebih dari 100.000 orang, namun diperkirakan terjadi banyak pula yang keluar ataupun yang masuk.
Dana umat yang disedot oleh NII struktural adalah (Satu Triliyun Empat Ratus Satu Milyar Dua Ratus Juta Rupiah) yang kemudian diwujudkan dalam bentuk bangunan mewah Ma’had Al Zaytun, yang konon biayanya menelan angka sampai hitungan sekitar 4 trilyun rupiah. Maka kekurangan dari jumlah keseluruhan yang dibutuhkan oleh Al-Zaytun masih banyak.
Menurut penuturan salah seorang mantan pengikut Abu Toto yang sempat dipercayakan memegang posisi Majelis Hai’ah (semacam departemen keuangan), Pak Andreas (Ismail Subardja), dana abadi yang berhasil dikumpulkan oleh KW IX hingga akhir tahun 1996 saja sudah mencapai 40 miliar rupiah. Dan seluruh dana yang ada dalam KW IX dimasukkan dalam rekening Bank ClC atas nama Abu Ma’ariq alias Abu Toto Abdus Salam (AS Panji Gumilang) dan keluarganya. (9)
~ Disalin secara utuh dari buku ” Aliran dan Paham Sesat di Indonesia “ dari hal. 45-50. Oleh: Al-Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Penerbit: Pustaka Al-Kautsar ~
Footnote:
(1). Diambil dari LPPI, tulisan Umar Abduh dengan sedikit perubahan
(2). Majalah Al-Zaytun no.11 Th.2000 hlm. 31
(3). Mabadiuts Tsalatsah, karya Abdul Karim Hasan (Buku Pedoman NII)
(4). Wawancara dengan Imam Shalahuddin (Mantan NII KW IX), tgl 22 Desember 2000. Baca juga MBM Al-Zaytun 6-7 Th. 2000 hlm. 99
(5). Ditulis oleh Guru MAZ dalam MB Al-Zaytun, edisi III Maret Th.2000 hal. 10-11
(6). Ibid
(7). Pos Kota, edisi 23 Desember 2000 hal.8 dan sebagaimana yang dimuat dalam MB Al-Zaytun, edisi 12-2000
(8). MB Al-Zaytun, edisi 12-2000 hal.13
(9). Wawancara UA dengan Bpk. Andreas, 10 Desember 2000.
Sumber : Dipublikasi ulang dari http://moslemsunnah.wordpress.com/
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2011/05/02/bukti-kesesatan-nii-negara-islam-indonesia/

Klik disini untuk melanjutkan »»

N.I.I = Negara Islam Indonesia (Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)

.
0 komentar

N.I.I = Negara Islam Indonesia

Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafidzahullah
http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2011/04/bendera-nii.jpg?w=395&h=187&h=295
N.I.I adalah ahlul bid’ah dari firqah yang sesat dan menyesatkan. Mereka ini telah pecah menjadi berfirqah-firqah, salah satunya adalah Pesantren Al-Zaytun yang ada di Indramayu yang di ketuai oleh Abu Toto.
Di antara bid’ah-bid’ah N.I.I ialah:
1. Aqidah mereka yang sagat rusak sekali, sebagaimana di jelaskan oleh saudara kami Ustadz Suroso Abdussalam seorang mantan tokoh N.I.I di kitabnya ” N.I.I Dalam Timbangan Aqidah “. (1)
2. Kejahilan mereka dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3. Tidak adanya ilmu diantara mereka, kecuali kebodohan yang telah ada di antara mereka yang diawali oleh pendirinya dan seterusnya hari ini terhadap ilmu agama. Oleh karena itu -dengan izin Allah- tidak sedikit di antara  mereka yang keluar dari firqah sesat ini dan kembali kedalam ajaran Islam  yang shahih yang di bawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menurut pemahaman para Shahabat.
4. Mereka mendirikan khilafah palsu dan mewajibkan kaum muslimin membai’at khalifah dan imamnya.
Bid’ahnya Ajaran-ajaran Bai’at (2)
Yakni, yang mewajibkan kaum muslimin berbai’at kepada khalifah-khalifah palsu dari mereka. Ajaran bai’at ini tidak syak lagi tentang bid’ahnya dan kejahilannya meskipun mereka menurunkan sejumlah hadits shahih di Bukhari dan Muslim. Akan tetapi mereka telah tersesat di dalam memahami hadits tanpa perantara ahli ilmu.
Karena yang dimaksud dengan bai’at dan membai’at seseorang ialah hanya kepada khalifah yang sah dari Quraisy untuk seluruh kaum muslimin dan apabila telah tegak daulah Islamiyyah.
Kalau hadits-hadits bai’at kita fahami sebagaimana pemahaman yang sesat  dari kaum bai’at bersama khalifah atau imam palsu dan bayangan dari mereka, niscaya kapan saja dan siapa saja dapat dibai’at yang kemudian di angkat menjadi imam atau khalifah. Kalau demikian, alangkah banyaknya jumlah khalifah di dunia ini.
Oleh karena itu berdasarkan nash Al-Qur’an dan Sunnah bersama perjalanan para Shahabat, mengikuti ajaran bai’at adalah bid’ah dan kesesatan. Sebaliknya, meninggalkan ajaran bai’at berarti kita telah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.
5. Mereka membuat kelompok (firqah) dan memisahkan diri dari kaum muslimin, kecuali yang masuk ke dalam firqah mereka.
6. Bahkan sebagian dari firqah mereka telah meninggalkan shalat dan lain-lain ibadah atau kewajiban di dalam Islam dengan alasan masih berada di periode Makkah.
Disalin dari buku ” Risalah Bid’ah “ hal. 312-313 Oleh guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ~semoga Allah menjaganya~ Penerbit: Pustaka Abdullah, Jakarta. (dengan sedikit edit kata dari admin)
Footnote:
(1). Bacalah kalau engkau mau kitab ” N.I.I Dalam Timbangan Aqidah ” oleh saudara kami Ustadz Suroso Abdussalam, mantan pengajar N.I.I
(2). Disalin dari kitab yang sama pada hal. 316 poin 522. Bid’ahnya ajaran-ajaran bai’at (admin)
Sumber : Dipublikasi ulang dari  http://moslemsunnah.wordpress.com
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2011/05/02/n-i-i-negara-islam-indonesia-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/

Klik disini untuk melanjutkan »»

NII KW IX Berhaji ke Indramayu Tiap 1 Muharram

.
0 komentar

NII KW IX Berhaji ke Indramayu Tiap 1 Muharram

http://moslemsunnah.files.wordpress.com/2011/04/a-02.jpg?w=410&h=277
Jakarta – Ini pengakuan seorang mantan anggota Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah (NII KW) 9. Sejak awal bergabung, dia tidak pernah dikenalkan rukun Islam.
Layaknya umat Islam, NII KW 9 juga berhaji. Tapi, Tanah Suci bagi mereka adalah Ponpes Al Zaytun.
“Saya tidak mengenal materi rukun Islam sejak awal bergabung. Karena bagi mereka, Islam adalah yang masuk dan dibai’at NII KW 9. Selain itu, kafir,” ujar mantan anggota NII KW 9, Bahtiar, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (28/4/2011).
Bahtiar bergabung dengan NII KW 9 pada 1994. Kala itu, dia masih duduk di semester 3 Jurusan Teknik Fisika UGM. Selama hampir dua tahun dia menjadi warga NII, Ponpes Al Zaytun belum berdiri. Saat itu, anggota NII KW 9 diberi tahu adanya program pembelian surga. Artinya, uang-uang yang diserahkan anggota merupakan wujud pembelian kavling surga.
“Saat saya masih jadi anggota NII KW 9, ternyata ada program pembebasan tanah di Indramayu yang kemudian dibangun Al Zaytun itu. Nah, bagi NII KW 9, yang namanya naik haji itu adalah berkunjung ke Al Zaytun setiap 1 Muharam kalender Hijriyah,” terangnya.
Menurut keterangan orang-orang yang pernah ‘berhaji’, imbuh Bahtiar, mereka diberi tahu kalau Al Zaytun yang megah dibangun dari dana yang telah mereka sumbangkan. Di sana mereka juga diberi materi untuk menguatkan pemahamannya akan NII KW 9.
“Di sana mereka bisa bertemu dengan anggota NII KW 9 lainnya, bisa berkenalan dengan yang lain untuk memupuk rasa kebersamaan. Kalau di waktu biasa, anggota NII hanya bertemu dengan pemimpin di atasnya, tidak dibolehkan bertemu dengan anggota lain di luar jalur komando,” jelas Bahtiar.
Sumber: http://us.detiknews.com/read/2011/04/28/142314/1627720/10/nii-kw-9-berhaji-ke-al-zaytun-tiap-1-muharam?991101mainnews
Dipublikasi ulang dari http://moslemsunnah.wordpress.com/
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2011/05/02/nii-kw-ix-berhaji-ke-indramayu-tiap-1-muharram/

Klik disini untuk melanjutkan »»

Mengenal Ciri-Ciri Aliran Sesat N.I.I

.
0 komentar

Mengenal Ciri-Ciri Gerakan NII

Sekarang media massa hingar bingar dengan peristiwa dialami anak-anak muda yang “hilang”, dan kemudian diketemukan dalam keadaan seperti “linglung”, serta menurut pengakuan mereka, mereka mengalami pencucian otak. Benarkah mereka yang “hilang” itu menjadi korban dari proses cuci otak yang dilakukan oleh NII?
Berbagai kajian yang pernah diterbitkan media massa Islam, menilai ada NII yang menyimpang jauh dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, dan disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.
Pondok pesantren modern ini berdiri pada akhir tahun 1990-an, dan diresmikan oleh Presiden RI B.J. Habibie. Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang itu, bukan hanya diresmikan oleh Presiden BJ Habibie semata, tetapi sejumlah tokoh penting pernah berkunjung dan memberikan bantuan kepada Pesantren Az-Zaytun, konon termasuk diantaranya sejumlah tokoh penting militer dan intelijen, dan bahkan diisukan mendapat suntikan dana dari Pemerintah Kerajaan Inggris.
Sampai sekarang media massa meributkan tentang NII dan dikaitkan dengan Az-Zaytun, tetapi tidak pernah ada tindakan apapun terhadap pesantren dan pengasuhnya. Seakan Pesantren itu kebal dari aparat dan hukum. Sementara itu, orang-orang yang mempunyai kaitan dengan NII, banyak yang kemudian menjadi tersangka atau dipenjara dalam waktu tertentu. Entah dituduh sebagai teroris atau melakukan gerakan yang dianggap menjadi ancaman keamanan negara.
Berbagai media massa Islam menampilkan hasil-hasil penelitian, analisis para pakar, hingga kesaksian para mantan santri pesantren tersebut sebagai bukti “kesesatan” Al-Zaytun dengan NII “jadi-jadiannya”.
Banyak yang mengatakan bahwa yang muncul ke permukaan yang menjadi fenomena sekarang ini, dan berlanjut menjadi sebuah permasalahan pelik, merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan umat Islam di Indonesia. Seandainya, argumentasi ini benar, wajar bagi umat Islam untuk menjadikan pihak-pihak yang terkait dengan gerakan tersebut sebagai ancaman serius yang selalu harus diwaspadai.
Sebuah media menyebutkan ciri-ciri kelompok bawah tanah yang mengatasnamakan NII tersebut.
Berikut ini adalah sebagian ciri-cirinya:
1. Dalam mendakwahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
2. Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga, para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang Dinul Islam. Padahal, kebanyakan akal merekalah yang berbicara, dan bukan Dinul Islam yang mereka ungkapkan.
3. Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih demi dakwah Islam. Tetapi semua itu, hanya sebagai alat (sarana) untuk menyedot uang.
4. Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan, setelah itu, sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Sehingga, yang terkesan adalah pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Dan, rata-rata, para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya, hingga sang calon mengatakan siap dibai’at.
5. Ketika sang calon akan dibai’at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan adalah Rp 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar.
6. Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan kahfi.
7. Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh (masih fatrah Makkah). Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah-lah justru Rasulullah benar-benar menerapkan syari’at Islam.
8. Sholat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat.
9. Shalat Jum’at diibaratkan dengan rapat/syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum’at.
10. Untuk pemula, mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat.
11. Infaq yang dipaksakan per periode (per-bulan), sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq.
12. Adanya qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun anggota tak memiliki uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil dari qiradh yang mereka janjikan tak kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Al Qur’an sedemikian rupa sehingga upaya meminta bagi hasil itu menjadi hilang.
13. Zakat yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafikan syari’at yang sesungguhnya.
14. Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan, mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan ‘infaq’. Padahal, pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan.
15. Belum berlakunya syari’at Islam di kalangan mereka, sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman.
16. Mengkafirkan orang yang berada di luar kelompoknya, bahkan menganggap halal berzina dengan orang di luar kelompoknya.
17. Manghalalkan mencuri/mengambil barang milik orang lain.
18. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, seperti menipu/berbohong, meskipun kepada orang tua sendiri.
Sebuah fenoma seperti puncak gunung es, yang sekarang ini terus berkembang di tengah-tengah masyarakat, dan mempunyai dampak luas dalam kehidupan umat Islam. Dengan stigma yang sangat menganggu, setiap peristiwa yang dikaitkan dengn NII akan selalu berdampak negatif.
Cobalah dipahami dan dipikirkan 18 ciri yang merupakan “methode” gerakan NII, yang akhir-akhir mendapatkan perhatian luas masyarakat. (mh)
Sumber: Eramuslim.com, Selasa, 26/04/2011 15:05 WIB
Cara NII mencari mangsa
Biasanya, calon korban yang diincar NII gadungan itu orang cerdas dan memiliki harta. Kalau NII sempalan hanya memburu korban yang diketahui banyak duit.
Selanjutnya, inilah pengakuan mantan pelakunya yang diberitakan detikbandung:
Ini Dia Ciri Pelaku Cuci Otak NII Sempalan dan Gadungan
Bandung – Mantan aktivis kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9), Adnan Fahrullah (40), mengatakan gerak-gerik dan ciri NII gadungan dan sempalan mudah dikenali. Pola kerja pelaku mengicar korban nyaris serupa.
“NII gadungan itu lebih mengutamakan pria yang bertugas pencuci otak. Sementara NII sempalan mengandalkan kaum wanita,” ujar Adnan saat ditemui di salah satu kawasan di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011).
Pelaku cuci otak, kata Adnan, relatif berusia produktif. Bahkan, NII gadungan mempunyai pencuci otak yang masih remaja. “Baik NII gadungan dan sempalan, setiap mencari calon korban biasanya bergerak dua orang. Jarang yang melakukan sendirian,” ujar bekas pelaku pencuci otak yang merekrut ribuan orang hijrah ke NII KW 9 di Jawa Barat ini.
Lebih lanjut Adnan menambahkan, tidak ada style atau busana khusus yang diapakai oleh pelaku cuci otak. Pelaku mendekati calon korban serta meminta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Pelaku pun tidak pernah memberikan identitas lengkap dan jelas.
“Pencuci otak itu bertukar alamat dengan calon korban. Padahal alamat yang diberikan kepada korbannya itu fiktif. Selain itu, pelaku punya nama samaran dari satu tempat ke tempat lain,” ungkap Adnan yang bergabung kelompok NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang pada 1989 hingga 2004.
NII gadungan dan sempalan secara bertahap merayu calon korbannya agar terhasut. Menurut Adnan, pelaku cuci terus berusahan ‘mengikat’ mangsanya bila sudah ada tanda-tanda terdoktrin.
“Pencuci otak itu punya target seminggu, paling cepat dua hari mereka dan korban rutin melakukan pertemuan dua hingga tiga kali dalam seminggu dengan membahas keislaman. NII gadungan langsung mengajak hijrah dan membaiat korban, setelah itu dibina. Kerjanya sistematis dan rapi. Kalau NII sempalan hanya membawa korban ke suatu tempat, setelah itu dikuras harta bendanya. Kalau ini hanya sesaat karena untuk memenuhi urusan perut,” paparnya.
Setiap sekali pertemuan, ujar dia, pelaku dan calon korban hanya berjumpa dua jam. Biasanya, calon korban yang diincar NII gadungan itu orang cerdas dan memiliki harta. Kalau NII sempalan hanya memburu korban yang diketahui banyak duit.
Ciri-ciri mudah seperti apa yang perlu diwaspadai terhadap gerakan mereka?
“Nah, ciri-cirinya, pencuci otak ini mengajak mempelajari Islam secara sembunyi-sembunyi. Lalu konten pembicaraannya mengkafirkan orang, memvonis bahwa pemerintah saat ini thogut (setan). Dan diarahkan untuk melakukan penggalangan dana,” tutur Adnan.
(bbn/ern)
Sumber: Baban Gandapurnama – detikBandung, Kamis, 21/04/2011 13:07 WIB
Dipublikasi ulang dari http://moslemsunnah.wordpress.com/

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | The Blog Full of Games